Rabu, 23 Oktober 2013

Permasalahan Kemacetan Di DKI Jakarta



Kemacetan saat ini adalah salah satu maslah pelik di Ibu Kota DKI Jakarta. Banyak gedung mewah bertingkat yang memadati setiap sudut jakarta,penduduk semakin bertambah setiap harinya,tanpa dapat di cegah dan di prediksi dengan tepat jumlahnya. Seiring dengan perkembangan perekonomian jakarta yang semakin pesat,banyak warga dari daerah sekitar jakarta yang bermigrasi ke Ibu Kota untuk mencari nafkah dan menempati berbagai sisi kota jakarta. Masyarakat daerah sekitar seperti Depok,Tanggerang,Bekasi,Bogor juga tidak luput menghuni Ibu Kota untuk mendapatkan hidup yang lebih layak dengan bekerja di berbagai gedung tinggi di jakarta.



Dengan segala permasalahan kehidupan terutama materi,menjadi alasan masyarakat Indonesia memusatkan mata pencarian ke Ibu Kota. Dengan begitu jakarta menjadi semakin padat,kemiskinan pun bertambah. Yang mampu hidup berkecukupan membeli kendaraan secara berlebihan,dan yang memiliki ekonomi menengah membeli kendaraan semampu mereka. Fasilitas cicilan kendaraan juga di sediakan berbagai dealer mobil dan motor untuk menunjang kebutuhan masyarakat yang semakin tinggi.



Dengan kemudahan mengambil kendaraan,telak membuat jakarta semakin hari semakin bertambah macet dengan kendaraan yang bertabur di jalanan,hampir semua orang memiliki kendaraan bahkan dalam jumlah yang berlebihan. Kemacetan menjadi salah satu masalah utama di Ibu Kota DKI Jakarta.



Peraturan Presiden (Perpres) tentang koordinasi kebijakan antar-pemerintah daerah di kawasan Jabodetabek akan segera terbit. Perpres ini diharapkan akan menjadi payung hukum untuk solusi jangka pendek mengatasi kemacetan Jakarta.



“Kutipan dari koran kompas”

"Segera terbit dalam hitungan minggu," kata Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono saat ditemui usai menghadiri pelantikan pengurus baru Masyarakat Transportasi Indonesia di hotel Le Meridien, Jakarta, Selasa (22/10/2013). Selain koordinasi antar-pemerintah daerah, ujar dia, perpres ini diharapkan pula akan menyelaraskan layanan moda transportasi publik.

Bambang belum merinci lebih lanjut isi peraturan itu. Namun, dia mengatakan, akan ada instruksi untuk dilakukannya koordinasi vertikal, horizontal, dan diagonal antar-pemerintah daerah di kawasan Jabodetabek dengan operator moda transportasi. "Perusahaannya bisa BUMN seperti PT KAI ataupun BUMD milik Pemprov DKI, dan yang lainnya," jelas Bambang.

Menurut Bambang, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tak bisa sendirian mengatasi persoalan kemacetan Jakarta. Solusi persoalan ini harus melibatkan daerah penyangga di sekitar Jakarta. Selain mendorong transportasi yang lebih terpadu, imbuh dia, akan dihilangkan pula tumpang tindih moda transportasi yang melayani penumpang.

Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Danang Parikesit berpendapat, peraturan ini akan memaksa semua operator moda transportasi untuk saling mengisi, terutama bagi mereka yang melayani lokasi pemberhentian berdekatan. "Yang paling kelihatan tentu saja halte transjakarta dan stasiun kereta rel listrik," ujarnya.



Pada saat program mobil murah (low cost green car/LCGC) banyak dikritik, Menteri Perindustrian Mohammad Suleman Hidayat angkat bicara. Dia mengaku menjadi salah satu penyebab kemacetan di Jakarta. "Saya akui, saya salah satu penyebab kemacetan di Jakarta selain masalah infrastruktur. Itu salah satu kesalahan saya," kata dia di gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Rabu, 18 September 2013.

Namun Hidayat meminta semua orang jernih memandang masalah LCGC. Keberadaan mobil murah ini mesti dilihat secara nasional, bukan cuma Jakarta. Protes LCGC, kata dia, tidak semestinya mengorbankan daerah lain. "Mobil ini juga untuk daerah lain di Indonesia," ujarnya.

Selain itu, Hidayat beralasan, produksi LCGC merupakan strategi untuk mengantisipasi kawasan perdagangan bebas ASEAN yang berlaku mulai 2014. Menurut dia, negara-negara pesaing sudah memproduksi LCGC dan mengekspornya. Secara makro, LCGC juga bisa mengurangi pengangguran. "Karena ada investasi untuk membangun pabrik komponen."

Hampir semua jalan di Jakarta mengalami kemacetan yang cukup membuat kita pusing, kesal, dan uring-uringan akibat kemacetan yang terjadi. Sebenarnya sederhana saja, kemacetan itu disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pertambahan jumlah kendaraan dan pertambahan jumlah jalan.

Selama ini pertambahan jumlah kendaraan meningkat dengan pesat sementara pertambahan jalan bisa dikatakan tidak ada pertambahan yang signifikan. Selain itu, faktor yang turut berperan dalam kemacetan adalah banyak pengendara yang tidak disiplin dan tidak mematuhi peraturan berlalu lintas serta jumlah penduduk DKI Jakarta yang semakin banyak akibat urbanisasi.

Beberapa cara yang telah ditempuh oleh pemerintah DKI Jakarta dalam mengatasi kemacetan, seperti memberlakukan three in one pada jalan-jalan tertentu dan membangun transportasi Busway Tapi nampaknya usaha tersebut tetap saja tidak bisa mengatasi kemacetan. Khusus untuk busway, transportasi massal jenis ini memang sangat dibutuhkan, tapi bukan untuk mengatasi kemacetan, justru sebaliknya, karena jalan yang digunakan oleh busway tidak dibarengi dengan pelebaran jalan, sehingga jalan semakin sempit akibatnya makin menimbulkan kemacetan. Di samping itu masyarakat pengguna busway justru dimonopoli oleh masyarakat yang nota bene tidak memiliki kendaraan roda empat.

Jakarta sebagai Ibukota Republik Indonesia disokong oleh beberapa daerah seperti Bogor, Bekasi, Tangerang, dan Depok. Di mana banyak masyarakat atau penduduk yang bertempat tinggal di daerah-daerah tersebut bekerja di Jakarta. Bisa dibayangkan kalau sebagian besar dari mereka menggunakan kendaraan ditambah dengan penduduk Jakarta yang terus bertambah. Jakarta jadi membludak dan akibatnya kemacetan terjadi di mana-mana.

Sebagai negara yang masih berkembang, tentu masyarakatnya, berlomba-lomba menuju ke penghidupan yang lebih baik. Pada umumnya, mereka mengukur kesuksesan dengan memiliki kendaraan roda 4 (mobil). Ada kebanggaan dalam dirinya dan ingin menunjukkan kepada keluarga, teman, dan masyarakat di sekelilingnya bahwa ia telah sukses. Semakin banyak mobil semakin kaya (sukses) dan banggalah ia.

Hal yang juga memicu kemacetan adalah jumlah penduduk. Orang berlomba-lomba hijrah ke Jakarta mencari pekerjaan atau kehidupan yang lebih layak. Umumnya, putra-putri terbaik daerah yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi hijrah ke Jakarta. Bahkan yang tidak berpendidikan pun semuanya hijrah ke Jakarta. Ibaratnya Jakarta adalah gula yang dikerebuti oleh semut. Sehingga menimbulkan banyak masalah, seperti pengangguran, kemiskinan, kriminalitas, kesenjangan sosial, kepadatan penduduk, dan lain-lain. Kenapa bisa terjadi demikian? Hal itu dapat disebabkan karena pembangunan yang tidak merata. Jakarta sebagai Ibukota negara mendapat perhatian yang berlebihan dalam semua aspek pembangunan, baik industri, infra suruktur maupun birokrasinya. Sementara daerah lain mendapatkan porsi dan perhatian yang lebih kecil. Sehingga terjadi ketidakseimbangan. Belum lagi pembangunan banyak yang tidak berorientasi lingkungan, sehingga dampaknya menjadi rawan banjir, longsor. dan sebagainya. Dampak yang lebih besar mungkin saja akan terjadi dalam beberapa tahun mendatang. Jakarta sepertinya tempat untuk praktek segala aktivitas kehidupan di Indonesia, tanpa ada perencanaan yang matang.

Sebagai sebuah negara yang luas dan terdiri dari banyak pulau dan jumlah penduduk yang besar. Perlu dipikirkan suatu sistem yang sesuai dalam menata negara ini. Mungkin kita bisa meniru sistem yang dipakai di Amerika Serikat, karena hampir ada kemiripan dalam hal luas daerah dan jumlah penduduk.

Ide tentang perpindahan ibu kota dan pembagian daerah (kota) sesuai dengan aktifitas terbesarnya juga mungkin merupakan solusi yang bisa dipertimbangkan, dipikirkan dan direncanakan secara matang. Namun itu merupakan solusi jangka panjang. Yang harus segera dilaksanakan, yaitu bagaimana untuk segera mengatasi kemacetan di Jakarta. Berikut ini, mungkin bisa menjadi solusi dalam mengatasi kemacetan di Jakarta, antara lain:

1. Jalur three in one lebih diperluas wilayahnya dan tidak menggunakan batas waktu.
2. Jalan-jalan yang dilalui busway yang menyebabkan penyempitan badan jalan harus segera diperlebar.
3. Membangun transportasi massal lain, seperti misalnya subway atau monorel
4. Menerapkan usia kendaraan yang layak beroperasi. Ini juga dapat mengurangi polusi.
5. Meningkatkan tarif pajak kendaraan bermotor, khususnya kendaraan roda empat.
6. Mengadakan pelatihan atau seminar kepada supir-supir angkutan umum tentang keselamatan dan peraturan berlalu lintas.
7. Menegakkan aturan dengan menindak tegas semua pelanggar lalu lintas tanpa kecuali ataupun oknum polisi yang berbuat pungli.
8. Memperbanyak dan terus menerus mengingatkan masyarakat melalui spanduk, brosur, ataupun iklan tentang disiplin berlalu lintas. Baik di media Cetak ataupun media elektronik.

Apa yang penulis kemukakan di atas sangat mungkin sudah dipikirkan oleh pejabat yang berkepentingan, para ahli ataupun pemerhati transportasi. Namun kenyataannya sampai saat ini hampir tidak ada aksi yang nyata, dalam mengatasi kemacetan di Jakarta. kalaupun ada, maaf hanya panas-panas tahi ayam. Di negara ini terlalu banyak orang pintar, tetapi sangat sedikit orang yang bisa atau mau mengimplementasikan ilmu yang dimilikinya. Mungkin juga sangat berhubungan dengan kesejahteraan. Karena pemerintah atau pejabat, lebih memikirkan perut sendiri dari pada memikirkan perut rakyat. Memang diperlukan dana yang tidak sedikit, tapi kalau dibandingkan dengan uang negara yang lenyap akibat korupsi.

Untuk bisa melihat masalah dengan lebih tepat (akurat), untuk bisa menemukan solusi yang sesuai dengan karakteristik masalah yang berbeda, kita perlu memecah-mecah masalah general tersebut kedalam masalah yang lebih spesifik, yang memiliki karakteristik masalah yang mungkin berbeda . Misalnya :
• Ada masalah kemacetan karena antrian di pintu tol,
• Ada masalah kemacetan karena jalan yang menyempit,
• Ada masalah kemacetan karena tidak ada alternative jalan lain sehingga semua melewati jalan tersebut,
• dan berbagai masalah spesifik lainnya.
Dengan dipecah-pecah menjadi masalah yang spesifik, maka fokus analisa kita bisa menjadi lebih tajam, sehingga kita bisa lebih tepat dalam menetapkan solusi sesuai karakteristik masalah pada masing-masing kasus.

Berikut ini contoh analisa masalah kemacetan yang saya pecah-pecah berdasarkan permasalahan spesifik untuk bisa memberikan solusi yang sesuai :

1. Masalah spesifik kemacetan yang terjadi di pintu tol yang dibuka setelah lampu merah. Kemacetan terjadi akibat sumbatan dari mobil yang mau masuk pintu tol. Ada beberapa sumber arus kendaraan (3 sumber arus jalan) yang mau masuk pintu tol, ditambah lagi keruwetan karena adanya saling silang antara mobil yang mau masuk tol versus mobil yang tidak mau masuk tol. Kondisi ini mengakibatkan terjadi sumbatan yang cukup parah dan mengakibatkan kemacetan pada titik tersebut. Contoh kemacetan ini adalah kemacetan yang terjadi di pintu tol tebet dari arah semanggi. Pembuatan jembatan layang kurang efektif karena sumbatan justru terjadi karena pintu tol setelah lampu merah, bukan karena lampu merah. Hal yang sama terjadi di pintu tol rawamangun dari arah priuk. Untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan membuka sumbatan kemacetan dengan cara menutup pintu tol setelah lampu merah. Jika ingin masuk tol, silahkan masuk ke gerbang berikutnya.
2. Masalah spesifik kemacetan karena jakarta dijadikan area "numpang lewat". Misalnya dari tangerang ingin ke bekasi, karena design jalan tol yang melewati jakarta, maka saya menggunakan tol ini hanya untuk numpang lewat, akibatnya terjadi penumpukan kendaraan. Sebenarnya sudah ada solusi untuk masalah ini, yaitu dengan mempercepat proses pembangunan jalan tol outer ring road, sehingga jakarta tidak dijadikan tempat "numpang lewat" dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
3. Masalah spesifik kemacetan di Jalan tol cikampek salah satu penyebabnya akibat ditutupnya kereta Jakarta-Bandung, Bandung-Jakarta. Dengan alasan rugi maka PT KAI menutup kereta jurusan tersebut. Akibatnya orang tidak punya alternative lain untuk ke Bandung. Bermunculan pula kendaraan penumpang untuk mengangkut penumpang dari Jakarta ke Bandung dan sebaliknya. Seandainya kereta tetap dibuka, dan dibuat nyaman plus diberikan subsidi sehingga biaya transportasi Jakarta Bandung dengan kereta menjadi jauh lebih nyaman dan murah, maka secara hukum ekonomi mobil penumpang akan berkurang. Demikian pula kendaraan umum dari Jakarta ke Bandung dan sebaliknya.
4. Masalah spesifik penyumbatan di keluaran tol. Tol tersumbat karena mobil yang keluar terhambat. Contoh kasus ini adalah tol dalam kota keluaran mampang dari arah cawang, yang berdampak kemacetan hingga tol cikampek. Sumbatan terjadi di mampang, namun setelah melewati mampang mobil bisa jalan dengan sangat lancar. Jika kita bisa buka sumbatan ini, maka kemacetan akan bisa dikurangi. Kalau kita perhatikan kenapa banyak yang ingin keluar di daerah mampang, hal itu terjadi karena mereka menghindari 3 in 1. Jika 3 in 1 ditiadakan, maka mungkin sumbatan ini akan hilang sehingga kemacetan bisa dikurangi. Lagipula apa sih efektifnya 3 in 1 ? Kenyataannya tidak bisa mengurangi pemakaian kendaraan, jadi 3 in 1 adalah solusi yang menurut saya kurang tepat sasaran tapi tetap dipertahankan.
5. Masalah spesifik kemacetan yang terjadi pada jam tertentu, misalnya jam masuk kerja. Untuk mengatasi masalah ini mungkin bisa diterapkan sistem mobil jemputan gedung. Penerapan sistem ini sama seperti mobil jemputan karyawan di pabrik-pabrik, sehingga bisa mengurangi volume kendaraan. Cara ini cukup efektif karena banyak orang yang malas bawa kendaraan karena lebih enak duduk tidur daripada harus bawa kendaraan dan stress.
6. Masalah kemacetan di jalan yang tersumbat karena jalan dipakai untuk parkir dan/ atau dagang. Buka sumbatan tersebut, maka kemacetan akan berkurang.
7. Dan masih banyak lagi masalah spesifik yang bisa dibedah untuk mengatasi kemacetan sesuai karakteristik kemacetan dimasing-masing titik kemacetan.

Pada prinsipnya kita perlu memecah-mecah masalah besar kedalam masalah-masalah yang lebih spesifik, sehingga kita bisa fokus mencari solusi yang tepat sasaran.
• Untuk kasus kemacetan, perlu dilakukan pembedahan pada titik-titik sumbatan, sehingga aliran mobil bisa berjalan dengan lebih lancar.
• Dan untuk bisa lebih memahami detil masalah yang spesifik, tugaskan masing-masing daerah untuk memikirkan solusi untuk mengatasi sumbatan tersebut.
Jika ini dilakukan secara detil, saya yakin masalah kemacetan bisa dikurangi dalam waktu yang cepat, sambil menunggu solusi yang lebih komprehensive.

Metode yang sama bisa kita lakukan untuk mengatasi permasalahan yang tidak kunjung terselesaikan pada perusahaan.
• Pecah-pecah masalah menjadi masalah yang lebih spesifik.
• Kenali masalah yang sudah spesifik tersebut menggunakan teori fakta bukan teori logika, sehingga tidak menimbulkan debat pendapat.
• Dan tetapkan solusi yang tepat sesuai masalah yang sudah disepakati. Semakin kita persempit masalah maka kita akan bisa melihat masalah secara lebih fokus dengan melihat fakta yang terjadi sekitar kasus spesifik tersebut. Dengan cara ini, analisa bisa dilakukan lebih spesifik sesuai karakter masalah dan dilakukan berdasarkan fakta bukan pendapat, sehingga solusi yang diberikan bisa lebih tepat sasaran sesuai kondisi masalah yang ada.

Dari berbagai masalah dan perdebatan pelik tentang Ibu Kota layaknya kita sebagai warga Ibu Kota ikut serta mendukung semua program yang di jalankan pemerintah. Memenuhi semua kebutuhan hidup memang penting,tapi kita juga harus menyadari bahwa membeli kendaraan bermotor secara berlebihan bukanlah tindakan yang bijak.





Sumber : Kompas